BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang

Manusia merupakan makhluk social yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi social yang menjadi syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas social ini merupakan hubungan social yang dinamis. Interaksi social menyangkut hubungan antarperorangan, antarkelompok, atau antar individu dengan kelompok.

Interaksi social terjadi jika masing-masing pihak sadar akan kehadiran pihak lain. Jadi, walaupun orang-orang saling bertatap muka tetapi tidak saling bicara, tetap telah terjadi suatu interaksi social. Interaksi social merupakan kunci dari semua kehidupan social karena tanpa interaksi social, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Bertemunya orang-perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok social. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian, dan lain sebagainya. Maka, dapat dikatakan bahwa interaksi social merupakan dasar proses social, yang menunjuk pada hubungan-hubungan social yang dinamis.

1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan  latarbelakang masalah yang telah dikemukakan di atas, timbul masalah-masalah yang dirumuskan dalam makalah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

a)        Apa Pengertian dari Interaksi Sosial?

b)        Apa saja Syarat-Syarat terjadinya Interaksi Sosial?

c)        Apa saja Ciri-Ciri Interaksi Sosial?

d)       Apa saja Faktor-faktor pendorong terjadinya Interaksi Social?

e)        Apa saja Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ?

f)         Apa saja Pertentangan atau Konflik Sosial dalam Interaksi Sosial?

1.3. Prosedur Pemecahan Masalah

            Untuk menjawab rumusan masalah yang ada, kami mengambil data dari berbagai sumber buku dan situs yang relevan. Data tersebut dikumpulkan dan disusun sehingga membentuk kesatuan isi yang utuh sesuai dengan masalah yang dibahas.

 

1.4. Sistematika Uraian

            Makalah ini tersusun dari tiga bagian, yaitu Bab Pendahuluan, Isi, Kesimpulan. Bab Pendahuluan terdiri atas Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Prosedur Pemecahan Masalah, serta Sistematika Uraian. Sedangkan dalam Bab Isi terdapat pembahasan mengenai pengertian interaksi, syarat terjadinya interaksi, ciri-ciri interaksi sosial, faktor pendorong dan faktor yang mempengaruhi interaksi sosial, bentuk-bentuk interkasi sosial dan pertentangan atau konflik sosial dalam interaksi sosial dan bab terakhir berisi kesimpulan dan daftar referensi.

BAB II

ISI

2.1. Definisi

Sejak dilahirkan manusia mempunyai naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya. Naluri ini merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya, yaitu kebutuhan afeksi, kebutuhan inklusi, dan kebutuhan control. Upaya manusia dakam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui suatu proses yang disebut interaksi social. Interaksi social adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Interaksi ini sifatnya dinamis. Dalam kenyataan sehari-hari terdapat tiga macam cakupan dalam definisi interaksi social, yaitu sebagai berikut :

1.      Interaksi antara Individu dengan Individu

Individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan, atau stimulus kepada individu lainnya. Sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan, atau respon. Wujud interaksi ini dapat dalam bentuk berjabat tangan, saling menegur, bercakap-cakap, atau mungkin bertengkar. Interaksi social bisa saja terjadi tanpa berbincang-bincang, misalnya “marahan”, kalau bertemu malahan saling berdiam diri, atau yang memakai pakaian dengan mode yang mencolok akan menarik perhatian banyak orang.

2.      Interaksi antara Individu dengan Kelompok

Secara konkret bentuk interaksi social antara individu dengan kelompok bisa dilihat pada contoh : seorang guru sedang mengajari siswa-siswanya di dalam kelas, atau seorang orator yang sedang berpidato di depan orang banyak. Bentuk interaksi semacam ini juga menunjukkan bahwa kepentingan seseorang individu berhadapan dengan kepentingan kelompok.

3.      Interaksi antara Kelompok dengan Kelompok

Bentuk interaksi seperti ini menunjukkan bahwa kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain. Contohnya : satu kesebelasan sepak bola bertanding melawan kesebelasan lainnya. Contoh lainnya : interaksi para peserta Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Negara-negara Nonblok.

2.2.   Syarat-Syarat Interaksi Sosial

Syarat terjadinya interaksi social di dalam masyarakat, terdiri dari :

1.      Adanya kontak social

Kontak social adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi social, dan masing-masing pihak saling bereaksi meski tidak harus bersentuhan secara fisik

Kontak social dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :

a.       Antara Orang-perorangan

Kontak social ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses, di mana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana dia menjadi anggota.

b.      Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok manusia

Kontak social ini misalny adalah apabila  seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila sustu pabrik politik memaksa anggota-anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideology dan programnya.

c.       Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya

Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan partai politik yang ketiga di dalam pemilihan umum.

2.      Adanya Komunikasi

Seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian member reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

2.3.    Ciri-Ciri Interaksi Sosial

Beberapa ciri dari interaksi social, yaitu :

1.      Jumlah pelakunya lebih dari satu orang

2.      Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak social

3.      Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas

4.      Dilaksanakan melalui suatu pola system social tertentu

2.4.       Faktor-faktor Pendorong dan Pengaruh Interaksi Sosial

Secara psikologis, seseorang melakukan interaksi social dengan orang lain didasari oleh adanya dorongan-dorongan yang bersifat psikologis-sosiologis antara lain :

1.      Imitasi

Imitasi adalah suatu tindakan seseorang untuk meniru segala sesuatu yang ada pada orang lain. Imitasi terjadi pertama kali terjadi dalam sosialisasi keluarga. Contoh yang paling jelas antara lain gaya dan mode berpakaian di kalangan remaja di kota-kota besar.

2.      Identifikasi

Identifikasi erat kaitannya dengan imitasi. Identifikasi merupakan yang dilakukan seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan orang yang ditirunya, baik dari segi gaya hidup maupun perilakunya.

3.      Sugesti

Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang yang diberi sugesti tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang disugestikannya itu tanpa berpikir lagi secara kritis dan rasional.

4.      Motivasi

Motivasi adalah dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab.

5.      Simpati

Simpati merupakan sikap ketertarikan seseorang terhadap orang lain. Sikap ini timbul karena adanya kesesuaian nilai yang dianut oleh kedu belah pihak, seperti pola piker, kebijakan, atau penampilannya.

6.      Empati

Empati hampir ini mirip dengan sikap simpati. Perbedaannya, sikap empati lebih menjiwai atau lebih terlihat secara emosional. Misalnya, jika kita melihat keluarga atau kerabat kita terkena musibah sikap empati membuat kita seolah-olah ikut merasakan penderitaan akibat musibah tersebut.

Dan ada juga faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal Dalam berinteraksi :

  1. Persepsi sosial : Dapat dikatakan sebagai kesadaran dn penilaian individu akan adanya orang lain dan perilaku orang lain yang terjadi disekitarnya, selain itu, persepsi social dapat berupa penilaian fisik dan ciri-ciri perilaku orang lain
    1. a.      Stereotype : pandangan individu tentang ciri ciri tingkah laku sekelompok orang tertentu, pendidikan, bentuk tubuh, jenis kelamin, yang ikut memberikan kesan pertama individu tersebut
    2. b.      Persepsi diri : pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri membantu kesan pertama terhadap orang lain
    3. c.       Situasi dan kondisi : situasi dan kondisi dimana kita bertemu dengan seseorang juga memberikan kesan yang berbeda terhadap orang tesebut.
    4. d.      Ciri ciri yang ada dalam diri seseorang : ciri fisik dari seseorang mempengaruhi persepsi yang akan kita bentuk
  2. Daya tarik interpersonal : peranan daya tarik interpersonal juga menempati posisi penting dalam perkembangan hubungan antarpribadi tersebut
    1. a.      Kesamaan sikap : seseorang menyukai orang lain cenderung memiliki kesamaan sikap dengan dirinya. Semakin sama sikap, maka semakin kuat daya tarik interpersonal
    2. b.      Daya tarik fisik : pada umumnya lebih berpengaruh untuk kesan pertama, untuk selanjutnya akan berkurang kekuatannya.
    3. c.       Respon afektif : perasaan seseorang terhadap orang lain ternyata mempunyai kekuatan yang besar dalam membantu mengembangkan hubungan interpersonal yang lebih jauh
  3. Sikap atau prasangka : penilaian terhadap sesuatu hal berdasarkanfakta ataupun informasi yang tidak lengkap. Bila seseorang berprasangka, maka orang tersebut menetapkan pendapatnya mengenai hal tersebut

Juga faktor yang berasal dari internal dan eksternal :

  1. Faktor internal dari setiap individu : faktor yang berasal dari diri orang yang bersangkutan
  2. Faktor eksternal dari luar lingkungan. Bisa berasal dari sifat objek yang dipersepsikan, sifat kelompok orang diluar lingkungan, media komunikasi, dan situasi saat interksi social terjadi.

Faktor-faktor tersebut mengenai timbulnya perilaku kelompok atas interaksi social yang terjadi : keadaan masyarakat yang tertekan dimana masyarakat dalam hal tertentu merasa tidak nyaman, keadaan masyarakat yang kondusif untuk terjadinya perilaku massa, adanya kepercayaan masyarakata bahwa sesuatu hal sedang atau akan terjadi, ada sarana dan prasarana untuk mengerahkan kelompok, kurangnya control social, dan adanya peristiwa pencetus

2.5.        Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Komunikasi ada dua jenis :

  1. Komunikasi searah : komunikasi yang datang dari satu pihak saja sedangkan pihak yang lain menjadi penerima
  2. Komunikasi dua arah : penerima dapat berfungsi menjadi pengirim berita sedangkan pengirim berita dapat menjadi penerima berita. Jika terjadi terus menerus maka akan menjadi dialog.

Sebab terjadinya kesalahan komunikasi : terbatasnya pembendaharaan kata atau system symbol, terbatasnya daya ingatan, dan gangguan pada media komunikasi. Sikap (attitude) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak suka, sikap netral dari seseroang terhadap sesuatu.

Manusia dapat mempunyai bermacam macam sikap terhadap bermacam macam hal. Sikap yang dianut oleh banyak orang disebut sikap social sedangkan yang dianut oleh seseorang disebut sikap individual. Karena sikap dapat dipelajari, konsekuensinya adalah sikap dapat berubah ubah sesuai lingkungan di sekitar individu yang bersangkutan pada saat saat tertentu dan tempat yang berbeda

Setiap interaksi ( Proses Sosial ) akan selalu menghasilkan dua bentuk interaksi social, yaitu interaksi asosiatif dan interaksi social disosiatif.

A.  Interaksi Sosial Asosiatif

Interaksi social asosiatif merupakan bentuk interaksi social yang menghasilkan kerja sama.

Ada beberapa bentuk interaksi social asosiatif antara lain sebagai berikut :

1.        Kerja Sama ( Cooperation )

Kerja sama disini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang-perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya ) dan kelompok lainnya ( yang merupakan out-group-nya)

Ada lima bentuk kerja sama, yaitu sebagai berikut :

a.    Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong

b.    Bergaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih

c.    Kooptasi (Cooptation ), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.

d.    Koalisi ( Coalition ), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama.

e.    Joint Ventrue, yaitu kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batu bara,

perfilman, perhotelan dll.

2.    Akomodasi ( Accomodation )

Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan suatu pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.

Bentuk-bentuk akomodasi, yaitu sebagai berikut :

a.    Coercion

Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan. Di mana salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah bila dibandingkan dengan pihak lawan

b.     Compromise

Compromise adalah salah satu bentuk akomodasi di mana-mana pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

c.    Arbitration

Arbitration merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.

d.   Mediation

Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah piha ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.

e.    Conciliation

Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

f.     Toleration

Toleransi ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.

g.    Stalemate

Stalemate merupakan suatu akomodasi, dimana phak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.

h.    Adjudication

Adjudication yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan

Hasil – hasil akomodasi, sebagai berikut :

1.    Akomodasi dan Integrasi Masyarakat

Akomodasi dan integrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.

2.    Menekan Oposisi

Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu ( misalnya golongan produsen ) dan kerugian pihak lain ( misalnya golongan konsumen ).

3.    Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda

Hal ini tampak dengan jelas apabila dua orang, misalnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.

4.    Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah

5.    Perubahan-perubahan dalam kedudukan

6.    Akomodasi membuka jalan kea rah asimilasi

Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih senang mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.

3.    Asimilasi

Merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia di tandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada perorangan-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.

4.    Akulturasi

fenomena yang timbul sebagai akibat pertemuan (kontak budaya) secara langsung dan terus – menerus antar kelompok manusia yang memiliki kebudayaan berbeda namun tidak menghilangkan ciri atau sifat asli dari masing – masing kebudayaan.

B.  Interaksi social disosiatif

Interaksi social disosiatif merupakan bentuk interaksi social yang menghasilkan sebuah perpecahan.

Ada beberapa bentuk interaksi social disosiatif, antara lain sebagai berikut :

1.    Persaingan ( Competition )

Persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses social, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian public.

2.    Kontravensi ( Contravention )

Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses social yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian.

Tipe-tipe umum kontravensi adalah sebagai berikut :
*. Kontravensi yang menyangkut generasi, misalnya perbedaan pendapat

Antara golongan tua dengan golongan muda.

*. Kontravensi yang menyangkut perbedaan jenis kelamin, misalnya

Perbedaan pendapat antara golongan wanita dan golongan pria.

*. Kontravensi Parlementer, misalnya pertentangan golongan mayoritas

Dengan minoritas di masyarakat.

  1. 3.    Konflik

Konflik adalah pertentangan antara dua orang atau lebih. Konflik ini dapat terjadi konflik individu, antar kelompok kecil bahkan antar bangsa dan negara.dampak ko nflik pada umumnya berdampak negtif. Misalnya, anak yang mempunyai orang tua yang terus-menerus bertengkar akan berkurang kepekaan afeksinya, tetapi mudah terpengaruh perilakunya (El Sheikh, 1994). Konflik yang terjadi didalam perusahaan akan mengurangi perstasi kelompok dan konflik antar bangsa dapat menyebabkan peperangan yang akan menimbulkan korban jiwa, dan konflik antar suku-suku aslidengan perusahaan atau pendatang lainnya dapat menimbulkan banyak kerugian baik kerugian dan korban jiwa.

Konflik antar individu atau antar kelompok yang merugikan kepentingan bersama disebabkan oleh :

  1. Masing-masing pihak (individu, kelompok, suku, ras, bangsa, agama) menilai dirinya sendiri berprilaku sesuai dengan situasi dan disuatu sisi pihak lain menilai pihak lain tidak sesuai dengan situasi.
  2. Motivasi dapat berubah sesuai dengan keadaannya.
  3. Sulit sekali memperkirakan apakah pihak lain mau bekerjasama dengan baik atau tidak.
  4. Dilema sosial yang menyangkut pada nilai-nilai itu sendiri.

Mengatasi dilema sosial

  1. Pengaturan (pembuatan peraturan)

Semua menyepakati suatu peraturan tertentu agar masing-masing dapat memperoleh hasil yang optimal.

  1. Kecil itu indah

Dalam kelompok kecil setiap individu bertanggung  jawab, lebih efektif, dan lebih terikat pada kelompok (Kerr,1989), juga cenderung untuk tidak mengambil lebih dari apa yang diperlukan (Allison, Jordan & Yeatts, 1982). Oleh karena itu, kelompok sebaiknya dibuat kecil, otonomi sampai ke daerah yang terkecil (desa) dan perusahaan kecil atau pelimpahan tanggung jawab diberikan sampai kepada bagian yang terkecil dalam perusahaan dan sebagainya.

  1. Komunikasi

Komunikasi yang efektif pada gilirannya  memungkinkan terbentuknya aturan yang disepakati dan dapat ditaati bersama. Oleh karena itu komunikasi yang baik adalah salah satu mengatasi dilema sosial yang dianjurkan.

  1. Imbauan untuk berbuat baik

Imbauan memang sering sekali tidak dihiraukan seperti jangan membuang sampah sembarangan. Namun himbauan untuk menyumbang bagi korban bencana alam  dapat berhasil karena menyentuh perasaan.

  1. Terbuka atau transparan

Kalau setiap orang tahu berbuat apa, kelompok dapat menjatuhkan sanksi pada yang berbuat tidak sesuai dengan aturan dan setiap orang akan berhati-hati dan tidak melakukan pelanggaran.

  1. 4.    Kesalahan Persepsi

Kesalahan persepsi dapat menyebabkan konflik individu maupun konflik kelompok.

  1. Persepsi cermin

Kecenderungan melihat perilaku diri sendiri kepada orang lain dan sekaligus menyalahkan dinamakannya “persepsi cermin”

  1. Persepsi yang berubah-rubah

Kesalahan persepsi dapat menimbulkan konflik dapat juga disebabkan oleh persepsi itu sendiri yang sering berubah-ubah tergantung pada keadaan subjek yang melakukuan persepsi itu, hubungan subjek dengan orang lain dan situasi sesaat. Persepsi selalu subjektif sehingga sulit untuk mengetahui mana yang benar.

Konflik masih sulit diatasi karena adanya naluri agresif oleh kau sikoanalis yang mengatakan sublimasi dalam permusuhan terhadap kelompok luar, ketaatan kepada pemimpin, motivasi utuk berkuasa dan memperoleh kekayaan, keras kepala, kemarahan dan perilaku yang terkait dengan jenis kelamin

BAB III

KESIMPULAN

Sejak dilahirkan manusia mempunyai naluri untuk hidup bergaul dengan sesamanya. Naluri ini merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya, yaitu kebutuhan afeksi, kebutuhan inklusi, dan kebutuhan control. Upaya manusia dakam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dilaksanakan melalui suatu proses yang disebut interaksi social. Interaksi social adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Interaksi ini sifatnya dinamis.

Interaksi social sebagai factor utama dalam kehidupan social.Interaksi social sangat berguna untuk menelaah dan mempelajari banyak masalah di dalam masyarakat. Sebagai contoh di Indonesia, dapat di bahas bentuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara berbagai suku bangsa, antara golongan-golongan yang di sebut mayoritas dan minoritas, dan antara golongan terpelajar dengan golongan agama da seterusnya. Intraksi social merupakan kunci semua kehidupan social karena tanpa interaksi social, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Isbandi Rukminto. 1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial : Dasar Dasar Pemikiran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sarwono, Sarlito. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta : Raja Rrafindo Persada

Sarwono, Sarlito. 20002. Psikologi Sosial : Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Shadily, Hasan. 1967. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta : PT. Pembangunan

Polak. 1966. Sosiologi, Suatu Pengantar Ringkas. Jakarta : Ikhtiar.

Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Rajawali Press.

Fisher, B.Aubrey. Penerjemah : Soejono Trimo. 1986. Teori-Teori Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy. 2001. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja

Rakhmat, Jalaludin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

West, Richard & Lynn H. Turner. Penerjemah : Maria Natalia Damayanti Maer. 2008. Pengantar Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi, Buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

Yasir. 2009. Pengantar Ilmu Komunikasi. Pekanbaru : Witra Irzani Pekanbaru.